Rabu, 11 November 2009

PEMBESARAN IKAN NILA

Usaha pembesaran nila ialah pemeliharaan ikan dari ukuran benih menjadi ikan yang layak dikonsumsi. Kegiatan yang dilakukan pada usaha pembesaran adalah memelihara benih ikan dari ukuran gelondongan kecil atau gelondongan besar selama beberapa bulan (Suyanto, 1994).
Ikan nila dapat dipelihara di kolam yang terletak pada ketinggian 500 m dpl atau kurang. Jika ketinggiannya lebih dari 500 m dpl maka suhu udara rendah. Hal ini mengakibatkan lambatnya pertumbuhan Ikan Nila. Pada ketinggian beberapa meter ditepi laut, produksi Ikan Nila dapat mencapai 500 kg/ha/tahun, setiap ketinggian naik 100 m produksinya turun sebanyak 250-300 kg/ha/tahun. Namun, produksi setinggi itu hanya dapat dicapai dengan pengelolaan yang baik dan dengan berbagai peningkatan kesuburan lahan/perairannya (Badan Litbang Perikanan).
A. Tahap-tahap persiapan kolam dalam pembesaran Ikan Nila yaitu :
1. Pengeringan dan Pengolahan tanah dasar
Pengeringan dasar dilakukan selama 3-7 hari (tergantung cuaca dan keadaan tanah ), yang penting dasar tanah menjadi retak-retak. Pengeringan dasar kolam bertujuan untuk menghilangkan senyawa beracun, mempercepat proses mineralisasi dan sisa bahan organic serta membasmi hama dan penyakit serta memperbaiki struktur tanah menjadi gembur sehingga aerasi didalam tanah menjadi baik (Suyanto, 1994).
Menurut Soepomo (1990), cara sederhana untuk mengetahui tingkat kekeringan tanah pelataran kolam yang dikehendaki adalah dengan berjalan diatasnya. Jika tanah yang kita injak turun sedalam 1-2 cm, maka pengeringan dianggap cukup. Setelah pengeringan selesai, dasar kolam dibajak atau dicangkul hingga kedalaman 5-15 cm.

2. Pengapuran
Penggunaan kapur dengan dosis tertentu serta pemupukan yang seimbang di kolam budidaya dapat meningkatkan produksi ikan. Penggunaan kapur di kolam budidaya untuk meningkatkan produksi ikan telah lama dilakukan orang (maman Tjarmana, 1999).
Tanah yang bersifat asam tidak baik bagi pertumbuhan ikan. Pemberian kapur yang tepat dapat menaikan pH seperti yang diinginkan. Menurut Soepomo (1990), disamping meningkatkan pH air tambak, pengapuran berfungsi :
• Memutuskan siklus hidup predator, competitor dan jamur yang dapat mengganggu atau mematikan ikan.
• Mengikat butir-butir Lumpur halus yang melayang didalam air sehingga air menjadi jernih.



Menurut N. Zonneveld (1991), Pengapuran berperan dalam hal :
• Meningkatkan pH Lumpur dasar sehingga menambah jumlah fosforyang berasal dari pupuk.
• Meningkatkan alkalinitas sehingga menambah jumlah CO2 untuk proses fotosintesis.
• Meningkatkan alkalinitas, karena menambah kemampuan penyanggah air dalam menetralisir pH.

Menurut N. Zonneveld (1991), jenis-jenis kapur yang digunakan adalah :
• Bahan kapur paling umum adalah batu kapur pertanian (Kaptan) CaCO3 atau CaMg (CO3)2
• Kapur kering (CaCO)3
• Kapur aktif (CaO)
Boyd (1979) CaCO3 menetapkan murni sebagai standar terhadap bahan kapur yang lain.
Menurut Boyd (1992), takaran CaCO3 (kg/ha) yang dianjurkan dalam hubungannya dengan pH tanah adalah :
• pH < 5, kaprnya 3000 kg/ha • pH 5-6, kapurnya 2000 kg/ha • pH 6-7, kapurnya 1000 kg/ha 3. Pemupukan Pemupukan kolam adalah upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah, yang mengakibatkan suburnya makanan alami bagi ikan. Salah satu factor keberhasilan usaha peningkatan intensifikasi kolam berkaitan dengan meningkatnya efisiensipenggunaan pupuk baik dalam jenis, dosis maupun waktu dan cara pemberian yang tepat (Mulyanto, 1990). Pada dasarnya semua jenis pupuk dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu, pupuk organic dan pupuk anorganik. Pupuk anorganic adalah nutrisi anorganik dalam komposisi sederhana, yang umumnya mempunyai komponen utama minimum satu jenis dari beberapa bahan berikut, yaitu : nitrogen, fosfat atau potassium (Bold dan Lichkopper, 1983). Pupuk organic adalah pupuk kandang dan limbah/sisa tanaman yang mengandung 4-50% karbon pada berat keringnya (Waynarovich, 1975). Beberapa keuntungan penggunaan pupuk organic adalah, bahwa pupuk organic dapat memperbaiki strutur tanah dan kesuburan tanah, terutama pada kolam-kolam baru. Pupuk organic juga merangsang pertumbuhan zooplankton yang merupakan makanan alami ikan. Pupuk organic yang sering digunakan adalah pupuk kandang, selain itu juga pupuk hijau, kompos dan limbah cair domestic (Maman Tjarmana, 2002). Metode aplikasi pemupukan merupakan hal yang penting. Penebaran pupuk sebaiknya harus merata untuk setiap lokasi kolam. Agar efektifitasnya tinggi maka harus dicegah hilangnya hasil pemupukan karena hujan atau terlepas ke atmosfer yang kemungkinan dapat terjadi pemupukannya hanya pada tempat/lokasi tertentu di koam (Maman Tjarmaan, 2002). Pada kolam air tawar penggunaan pupuk anorganik dapat menggunakan acuan yang dikeluarkan oleh Balai Budidaya Air Tawar Sukamandi yaitu TSP 10 gram/m2, urea 15 gram/m2 dan pupuk kotoran ayam 250-500 gram/m2 dengan cara dilebur merata dipelataran kolam. 4. Pengairan Kolam Pengairan kolam dilakukan setelah selesai pemupukan, kolam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Hari kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. setelah sehari semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan.pada saat itu Fitoplankton mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi kuning kehijauan. Dasar kolam juga mulai banyak organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya (Suyanto, 1994). 5. Penebaran Benih Menurut Suyanto (1994), benih yang ditebar sebaiknya benih jantan saja, seperti diketahui ikan jantan akan cepat tumbuh jika dipelihara dengan monosex. Hal ini karena seluruh energi diperoleh ikan akan dipergunakan untuk tumbuh. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan bahwa, padat tebar tergantung pada spesies atau jenis ikan yang cocok dan tepat jumlahnya. Kolam ikan hanya dapat mendukung jumlah tertentu dari ikan, sebab hal ini dibatasi oleh ruang gerak dan ketersediaan pakan yang ada. Pengaruh lainnya adalah kondidi tanah dan kualitas air (Maman Tjarmana, 2002). Penebaran benih dilakukan 5-7 hari setelah pemupukan dan makanan alami sudah tersedia di dalam kolam. Waktu penebaran ikan umumya dilakukan pada pagi haari dan sore hari, pada saat air sejuk sehingga ikan yang ditebar tidak strs (mati). Penebaran ikan dilakukan dengan cara Aklimatisasi yaitu, penyesuaian suhu air pada wadah benih dengan air kolam, penyesuaian kualitas air. Aklimatisasi dilakukan selama 15-30 menit sampai suhu air pada wadah benih sama dengan air kolam, pelepasan benih dilakukan dengan cara memiringkan wadah benih sampai ikan keluar dengan sendirinya (Kairuman, 2002). 6. Pemeliharaan Kegiatan penting yang perlu dilakukan selama masa pemeliharaan adalah pemberian pakan tambahan, pencegahan dan pengontrolan terhadap hama dan penyakit, pengontrolan kebocoran di pematang kolam dan pengontrolan di saringan pintu pemasukan dan pengeluaran air (Kairuman, 2002). Pakan yang dimakan oleh ikan pertama-tama digunakan untuk memelihara tubuh dan mengganti alat-alat tubuh yang rusak, kelebihannya baru digunakan untuk pertumbuhan. Pakan ikan yang diberikan harus menggunakan protein, karbohidrat dan lemak, zat ini akan diubah menjadi energi. Protein merupakan sumber energi utama, kandungan protein untuk pakan ikan harus berkisar anatara 28-30% (Hapher, 1975), sedangkan menurut Sekroeder (1975) berkisar 28-37%. Selama masa pemeliharaan, ikan diberi makanan tambahan disamping tersedianya makanan alami agar bias memacu pertumbuhan ikan. Makanan tambahan yang duberikan adalah pellet karena mengandung protein sebesar 30 %. Dalam sehari, pakan tambahan diberikan sebanyak 3 kali pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Jumlah yang diberikan sekitar 3-5% dari berat total ikan yang dipelihara (Admadja dkk, 1985). Kegiatan pemeliharaan lainnya adalah melakukan sampling atau pengambilan sample untuk mengetahui pertumbuhan ikan, terutama untuk memantau berat ikan. Selain sampling, pengontrolan kualitas air dan pengontrolan saringan pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air juga dilakukan (Khairuman, 2002). 7. Pemanenan Hal-hal yang berkaitan dengan pemanenan yang perlu diperhatikan agar tidak mengalami kegagalan atau kerugian itu dapat dihindari seminimal mungkin, maka harus diperhatikan alat yang digunakan baik jumlah, jenis, ukuran maupun bahannya, cara panen, waktu panen, dan metodenya harus tepat. Pemilihan macam alat yang digunakan harus disesuaikan, karena menggunakan alat ini tergantung dari ukuran ikan yang akan dipanen, jumlah ikan yang dipanen, jenis ikan yang dipanen, jumlah tenaga kerja yang tersedia, metode yang digunakan, efisiensi dan efektifitas yang diharapkan. Jenis-jenis alat yang digunakan dalam kegiatan panen ikan adalah hapa, seser, anco, dan lain-lain. B. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Nila Menurut klasifikasi yang terbaru (1982) nama ilmiah ikan nila ialah Oreochromis niloticus. Nama genus Oreochromis menurut klasifikasi yang berlaku sebelumnya disebut Tapia. Perubahan klasifikasi tersebut dipelopori oleh Dr. Trewavas (1980) dengan menbagi genus Tilapia menjadi tiga genus berdasarkan perilaku kepedulian induk terhadap telur dan anak-anaknya. Golongan ikan ini mempunyai sifat yang unik setelah memijah. Induk betina mengulum telu-telur yang telah dibuahi di dalam rongga mulutnya. Perilaku ini biasa disebut juga dengan istilah mouth breedr (pengeram telur dalam mulut). Ide Dr. Trewavas telah disepakati oleh para ahli ikan (ichthyolog) sehingga pembagian genus itu adalah sebagai berikut : • Genus Oreochromis Pada Genus Oreochromis induk betina mengerami telur di dalam rongga mulut dan mengasuh sendiri anak-anaknya. Anggota genus ini adalah Oreochromis Hunteri, Oreochromis Niloticus, Oreochromis Mossambicus, Oreochromis Misaureus, dan Oreochromis Spilurus. • Genus Sarotherodon Pada Sarotherodon induk jantanlah yang mengerami telur dan mengasuh anaknya. Contonya adalah Sarotherodon Melanotheron dan Sarotherodon Galilaeus. • Genus Tilapia Ikan dalam genus Tilapia memijah dan menaruh telur pada suatu tempat atau benda. Induk betina dan jantan bersama-sama atau bergantian menjaga telur dan nak-anaknya. Contohnya adalah Tilapia Spermanii, Tilapiaredalli dan Tilapia Zilli. Klasifikasi dari ikan nila itu sendiri adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes Sub-kelas : Acanthoptherii Ordo : Percomorphi Sub-ordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis Jenis : Oreochromis Niloticus Setiap spesies mempunyai cirri-ciri khas, cirri pada ikan nila adalah garis vertical yang berwarna gelap disirip ekor sebanyak enam buah. Garis seperti itu juga terdapat pada sirip punggung dan sirip dubur. Sedangkan ikan mujair tidak mempuntai gari-garis vertical di ekor, sirip punggung dan di sirip dubur (Suyanto, 1994). C. Habitat Ikan Nila Ikan nila termasuk ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan hidup. Nila dapat hidup di air tawar, air payau, dan air asin. Ikan nila yang masih kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan disbanding ikan nila yang sudah besar. Niali pH air tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8.5. pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7-8. suhu optimal untuk ikan nila antara 25-300C, oleh karena itu ikan nila lebih cocok di pelihara di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dari permukaan laut (Suyanto, 1994). D. Perkembangbiakan Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminya. Baru setelah berat badannya mencapai 50 gr dapat dilihat perbedaannya. Sedangkan ikan nila yang berumur 4-5 bulan (100-150 gr) sudah mulai kawin dan bertelur. Ciri-ciri nila jantan adalah sebagai berkut : • Warna badan lebih gelap dari ikan betina. Bila waktunya untuk memijah, bagian tepi sirip berwarna merah cerah. Sifatnya menjadi lebih galak terhadap ikan jantan lainnya. • Alat kelaminnya berupa tonjolan di belakang lubang anus. Pada tonjolan tersebut terdapat lubang untuk mengeluarkan sperma. • Tulang rahang melebar yang kebelakang memberi kesan kokoh. Ciri-ciri ikan nila betina sebagai berikut : • Alat kelamin berupa tonjolan di belakang lubang anus. Namun, pada tonjolan itu ada 2 lubang. Lubang yang di depan untuk mengeluarkan telur, sedang lubang yang di belakang untuk mengeluarkan air seni. • Warna tubuh lebih cerah disbanding dengan jantan dan gerakannya lebih lamban. Ikan nila dapat memijah sepanjang tahun. Bila induk-induk ikan dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang baik maka ikan nila dapat memijah setiap 1,5 bulan sekali. Secara alami ikan nila biasanya memijah setelah turun hujan. Ikan ini dapat memijah tanpa persyaratan yang khusus, tak perlu pengeringan kolam terlebih dahulu (Suyanto, 1994). Bila telah tiba saat memijah, ikan jantan membuat sarang berbentuk cekungan di dasar kolam. Diameter cekungan antara 30-50 cm sesuai dengan besarnya ikan. Lalu ikan-ikan jantan menjemput betina pasangannya masuk ke dalam cekungan tadi. Kemudian ikan betina mengeluarkan telurnya dan pada saat yang sama ikan jantan juga mengeluarkan sperma. Pembuahan terjadi di dasar cekungan (Suyanto, 1994).

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com